Adat & Budaya Makassar

Adat & Budaya Makassar

ADAT BUDAYA MAROS, SEBUAH PELAJARAN INDAH MENGENAI WARISAN LELUHUR

Adat budaya Maros sangatlah kaya, banyak hal unik yang dapat ditemukan di kabupaten yang berada di Sulawesi Selatan ini. Posisi Maros sangat strategis, selain menjadi daerah perlintasan dari Makassar menuju Toraja, juga merupakan daerah peralihan dan pertemuan dari dua kebudayan dari etnis Bugis dan Makassar. 

Kabupaten Maros melahirkan unsur-unsur budaya, perpaduan antara nilai-nilai agama dan lingkungan alamnya yang dilatarbelakangi dan diwarnai oleh budaya Bugis dan Makassar itu sendiri, saling mempengaruhi, berakulturasi yang akhirnya memunculkan kekhasan budaya baru. Beberapa ekspresi budaya yang dituangkan dalam suatu bentuk arsitektur dan kegiatan mencerminkan kehidupan manusia masa lampau di Kabupaten Maros. 

Rumah Adat Maros

Kebudayaan Maros dalam wujud bangunan fisik bisa kita saksikan pada arsitektur rumah adat Balla, yaitu rumah adat Suku Bugis dan Suku Makassar. Rumah Balla berupa rumah panggung yang memiliki kolong bawah rumah. Lantainya mempunyai jarak tertentu dengan tanah, bentuk denahnya empat persegi panjang. Menariknya Balla berdiri tanpa perlu menggunakan paku, semuanya murni menggunakan kayu, dan uniknya rumah ini dapat diangkat/dipindah tanpa membongkar terlebih dahulu.

Rumah Adat Balla dapat menunjukkan status sosial penghuni yang menempati. Bagi keturunan raja atau bangsawan, ukuran bangunan lebih luas, begitu juga dengan tiang penyangganya yang lebih besar, dan atap berbentuk prisma sebagai penutup bubungan yang biasa disebut timpak laja yang bertingkat-tingkat. Semakin banyak tingkatnya semakin tinggi kedudukan status sosialnya.

Upacara Adat Maros

Berbagai upacara adat masih banyak yang bisa kita jumpai di Kabupaten Maros. Baik tradisi ritual pernikahan, tradisi ritual untuk menyambut musim tanam dan musim panen, tradisi yang berbasis agama, dan lain-lain. Salah satunya tradisi Mappalili/Appalili.

Tradisi Mappalili dalam Bahasa Bugis atau Appalili dalam Bahasa Makassar yang berarti menjaga tanaman padi dari sesuatu yang mengganggu atau menghancurkan. Tradisi ini ditandai dengan menurunkan benda-benda pusaka kerajaan, khususnya pajjeko (bajak) ke sawah adat menjadi tanda memasuki musim tanam padi, dan dilakukan setiap tanggal 17 Nopember setiap tahunnya.

Pakaian Adat Maros

Baju Bodo adalah pakaian tradisional wanita Suku Bugis dan Suku Makassar. Baju bodo berbentuk segi empat, biasanya berlengan pendek, sesuai dengan namanya “bodo” yang berarti pendek, setengah atas bagian siku lengan. Baju Bodo diperkirakan sebagai salah satu busana tertua di dunia, hal itu didukung dengan sejarah kain muslin yang menjadi bahan dasar Baju Bodo.

Baju Bodo memiliki aturan pemakaian berdasarkan warna yang melambangkan tingkat sosial dan usia dari pemakainya.

Warna Jingga, dipakai oleh anak perempuan berumur 10 tahun

Warna Merah, dipakai oleh gadis berumur 17 – 25 tahun

Warna Putiih, dipakai oleh pembantu dan dukun

Warna Hijau, dipakai oleh perempuan bangsawan

Warna Ungu, dipakai oleh para Janda

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *